Bapakku Mertuaku
Partijan melihat lagi penampilanya di kaca, rambutnya tampak mengkilat karena pomade yang di oleskannya. Kemeja batik pemberian anak perempuanya 3 tahun lalu, dikenakanya dengan bangga... Sudah 47 tahun, tapi masih terlihat seperti 17 tahun pujinya sendiri.
Partini, anak bungsunya, sudah lima tahun ini bekerja di Surabaya. Dia tidak memberi tahu bekerja sebagai apa di sana, tetapi setiap bulan selalu mengirimkan uang kepadanya. Barulah jika menjelang Idul Fitri, Partini pasti pulang. Membawa banyak oleh-oleh untuknya, termasuk baju batik yang dipakainya saat ini. Anak keduanya itu pintar mengira-ira, sehingga baju pemberiannya terasa sangat pas di tubuh. Partini memang sangat sayang dan penuh perhatian padanya.
Tidak seperti Partinah anak sulungnya, dia pergi ke Kalimantan delapan tahun yang lalu. Jangankan pulang untuk berhari raya bersama, memberi kabar pun tidak pernah. Meskipun kecewa dengan kelakuan anaknya itu, tetapi do'a-do'a terbaik selalu dia panjatkan. Semoga Partinah selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan semua kebaikan di kehidupanya.
Partijan kembali berkaca, seulas senyum tersungging dari bibirnya. Malam ini dia akan berkunjung ke rumah Wakinah, janda anak dua yang sudah sebulan ini didekatinya. Bahkan, dia sudah melamar wanita itu untuk menjadi istrinya.
Partijan memang sudah lama menduda, setelah kematian istrinya 10 tahun yang lalu. Wakinah pun, sudah menjanda tujuh tahun lamanya. Cinta diantara mereka tumbuh karena seringnya bertemu di pasar, tempat mereka mencari nafkah dan penghidupan sehari-hari.
Di pasar itu Partijan menjual palawija, sedangkan Wakinah menjual bumbu dapur. Tempat mereka berjualan berdampingan, sehingga lelaki itu leluasa menggoda-gida sang pujaan hati.
Terkadang Partijan sengaja menyembunyikan biji timbangannya sendiri, agar bisa meminjam biji timbangan milik Wakinah. Walaupun awalnya Wakinah sangat benci dengan kelakuan Partijan itu, karena dianggapnya lelaki itu pelit dan tidak mau keluar modal.
"Masa sih, untung ratusan ribu sehari, beli biji timbangan yang puluhan ribu saja tidak bisa?" dampratnya suatu ketika.
Ternyata taktik Partijan manjur juga, setiap hari dapat selalu ber-interaksi dengan janda cantik 37 tahun itu. Hingga suatu saat peristiwa tidak terduga terjadi, ketika mereka sama-sama membereskan barang dagangannya masing-masing. Partijan menembak Wakinah, menyatakan perasaannya secara gentleman.
"Nah.Boleh aku berterus terang tentang perasaanku, padamu?" tanya Partijan lembut.
Wakinah terkejut dengan kata-kata lelaki itu, dia pun menghentikan aktifitasnya,
"Tumben mau ngomong serius, biasanya juga sekali ngomong saja, cuma mau pinjam biji timbangan," jawab wanita bergelung sangat besar itu.
"Ini serius Nah, tentang hubungan kita ..." Lelaki itu kini memandangi wajah wanita yang didambakanya itu dengan mesra.
Yang dipandangi jadi memerah mukanya, menunduk sambil pura-pura kembali membereskan dagangannya.
"Apa sih, Kang? Jangan membuat hatiku deg-degan begini." Hati Wakinah berdebar, jantungnya deg-degan.
"Maukah kamu menikah denganku, Nah?" tanya Partijan.
Tiba-tiba saja lelaki itu sudah berada didekatnya, membuat wanita itu menghindar dan terpelanting jatuh. Wakinah sangat terkejut, karena mengira Partijan berusaha mencium.pipinya.
Dengan sigap Partijan membantu Wakinah berdiri, sudah mirio-mirip sinetron di televisi. Moment itu tak disia-siakan pedagang lainya, yang langsung menggoda mereka berdua.
"Waduh sabar, Pak Jan, belum muhrim sudah mau nyosor saja!" terdengar seseorang mengomentari kejadian itu.
"Bu Inah! Kasian itu Pak Jan, sudah tidak sabar menunggu malam pertama!" imbuh pedagang lainnya.
"Hahahaha!" Bergemuruhlah tawa para pedagang di sekitaran lapak mereka.
"Makanya, cepat diresmikan, Pak Jan ... Bu Inah ... Biar bisa cari nafkah berdua, gak saling pinjam biji timbangan lagi!"
"Hahahaha!" Terdengar lagi tawa sahabat-sahabat pedagang, membuat mereka menjadi salah tingkah.
"Bagaimana, Nah?" tanya Partijan sekali lagi, saat suasana sudah mereda.
"Aku tanya anakku dulu ya, Kang. Seminggu lagi, datanglah ke rumahku.. Jangan terlalu malam datangnya, selepas Maghrib saja," jawab Wakinah malu-malu.
Partijan mengangguk setuju, apa artinya seminggu penantian. Toh, setiap hari dia masih dapat bertemu dengan wanita yang disayanginya itu.
Ternyata perkiraan Partijan tidak tepat, sejak kejadian itu Wakinah tidak berjualan lagi. Bukan karena marah denganya, tapi sedang pergi memberitahu anaknya yang tinggal di Kabupaten Blitar perihal rencana lamaran lelaki itu. Seorang lagi anak dari janda itu bekerja di Kalimantan, kabarnya sudah menikah dan punya anak juga di sana.
*****
Sudah seminggu, Partijan berniat mengunjungi Wakinah sore ini. Masih kurang mempercayai penampilannya, dia berkaca lagi di spion sepeda motornya. Masih tetap terlihat ganteng, seperti persis saat dia mengaca di kamar tadi.
Setelah mengunci pintu rumah, dia pun bergegas mengendarai sepeda motor menuju rumah kekasihnya itu. Satu setengah jam waktu yang dibutuhkan kendaraan itu, untuk sampai ke desa tujuan yang berjarak 80 kilometer.
Sampai di sana sang pacar menyambutnya di depan pintu, penampilan wanita pujaannya itu membuat Partijan pangling. Rambutnya digelung rapi, memakai kebayak warna kuning pastel, dibalut dengan legging hitam, dan riasan tipis kosmetika di wajah ayunya itu. Membuat Partijan terpana sehingga hilang akal, hingga ketika sudah dipersilakan masuk. Kepala duda tua itu malah terantuk tiang kayu, di teras rumah Wakinah.
"Hati-hati dong, Kangmas!" Wanita itupun tidak dapat menahan gelak tawanya, diiringi permintaan maaf pada sang calon suaminya.
Di dalam rumah, partijan terlihat seorang wanita lagi sedang menggendong seorang bayi.
"Itu Susanti, Kang. Dia itu menantuku keduaku, istri dari Suwondo, anak keduaku. Suaminya belum bisa datang kemari, karena masih sibuk dengan tanamannya," terang Sakinah.
Susanti menghampiri Partijan, bersalaman dan mencium tangannya.
"Duduklah, Kang. Inilah gubugku, banyak lubangnya .... Maklum, rumah janda," kata Wakinah memancing suasana, tetapi yang dipancing malah bertanya balik bertanya.
"Bagaimana tanggapan dari anak-anakmu, dengan rencana pernikahan kita, Nah?" tanya Partijan, sambil menatap wajah ayu di depannya. Yang ditatap membalasnya dengan senyuman, senyum termanis yang pernah dia sunggingkan kepada seorang pria dalam tujuh bulan ini.
"Mereka setuju semua, Kang. Suwandi, anak sulungku yang di Kalimantan bahkan berencana pulang saat hari perkawinan kita. Bagaimana dengan anak-anakmu, Kang? Apa mereka mau memiliki ibu tiri sepertiku ini?"
"Partini anak bungsuku, bahkan memintaku mempercepat perkawinan kita, Nah. Menurutnya, tidak baik kalau terlalu lama runtang-runtung. Anakku yang di Kalimantan, aku sudah kehilangan jejaknya sejak delapan tahun lalu."
Percakapan itu semakin hangat dan mesra, mereka sudah seperti layaknya suami istri saja. Sebelum jam sembilan malam, Partijan sudah pamit pulang. Sang calon istri mengantarkannya keluar, karena itulah dia mendapat ciuman dari Partijan di kedua pipinya. Kali ini, dia hanya mandah dan tersenyum bahagia.
*****
Hari pernikahan pun terlaksana dengan lancar, pernikahan yang sangat sederhana tetapi romantis. Mereka mengucapkan ijab kabul di KUA, disaksikan anak, menantu, dan cucunya. Hanya yang dari Kaliman belum datang, karena keterlambatan penerbangan dari sananya. Jika tidak terhalang lagi, baru keesokan hari mereka sampai di sini. Melalui handphone, mereka mengabarkan itu. Dan, semua memakluminya.
Malam itu Partijan mulai tidur di rumah istrinya, wanita yang sangat diidamkanya. Sepanjang malam mereka bercanda ria, tergelak bersama. Diakhiri dengan cumbuan mesra, menikmati indahnya malam pertama.
*****
Sekitar pukul enam pagi, dua orang pengantin baru itu dikejutkan oleh suara ketukan di pintu. Dari suaranya Wakinah sudah hafal, itu adalah suara Suwandi, anaknya yang di Kalimantan. Mungkin dia pulang bersama istri dan anaknya, karena dia mendengar ada suara lainnya.
Wanita yang tengah berbahagia itu bergegas merapikan pakaiannya, kemudian dengan setengah berlari menuju pintu rumahnya. Ketika pintu itu dibuka, satu pelukan dan ciuman anak sulung diterimanya.
"Maaf baru datang, Bu," kata Suwandi, "ini istriku Partinah dan anak kami. Maaf, kami tidak sempat menjemput Ibu saat kami menikah."
Sakinah mengangguk haru, sebelum membalas mencium pipi anaknya itu. Istri Suwandi pun turut memeluk dan mencium ,kedua pipi mertuanya.
"Ini anakmu, Ndi? Cantik, seperti ibunya!" seru Wakinah senang, seraya mengambil bayi dua tahun yang masih terlelap di gendongan ibunya itu.
Partijan bukanya tidak mendengar keributan kecil itu, tetapi seluruh tubuhnya masih terasa pegal-pegal, efek dari permainan semalam dengan sang istri baru. Tetapi, kemudian terdengar suara istrinya memanggil.
"Pak! Ini anak, menantu dan cucumu datang! Kesini, cepat!"
"Iya, sebentar' jawab Partijan dengan ekspresi gemas, karena gagal menuntaskan rencananya untuk tidur lebih lama lagi.
Dengan malas lelaki itu melangkah keluar dari kamar, melempar senyum pada istrinya, pada Suwandi dan pada ...?
Partijan hampir saja terpelanting jatuh, ketika matanya bertemu pandang dengan istri Suwandi. Seperti tidak percaya dengan pandanganya, dia berkali-kali mengucek kedua matanya.
"Partinah!" teriaknya pada wanita yang tak kalah terkejutnya, mendengar suara yang sangat dikenalinya itu. Menatap wajah tua yang dirindukannya, dia pun segera menghambur ke dalam pelukan Partijan.
"Bapaaak!" teriak Partinah, seiring pecahlah tangis kedua orang yang memendam kerinduan itu,
Wakinah dan Suwandi pun saling berpandangan, dengan seribu tanya di hati mereka.
"Siapa wanita ini, Kang?" tanya Wakinah lembut, sambil menggamit lengan suaminya,
"Dia adalah Partinah anakku, yang selama delapan tahun ini bekerja di Kalimantan itu."
"Jadi ini bapakmu, Sayang?" tanya Suwandi pada istrinya, Partinah pun mengangguk pasti.
Ibu dan anak itu saling berpandangan, tak terlukiskan rasa keterkejutan yang menghantam hati dan perasaan mereka saat itu.
"Jadi, Bapakku juga Mertuaku?" tanya Suwandi datar, semuanya mengangguk beesamaan.
"Iya, istriku adalah besanku!" imbuh Partijan sambil tersenyum bahagia.
"Kok seperti judul sinetron Indosiar?" tanya Wakinah disambut tawa yang berderai air mata.
😁😁😁😁😁
Nganjuk, 28 Septrmber 2018
Komentar
Posting Komentar