They Are Call Mr.Funny

Tidak pernah merasa sedih, itulah sesungguhnya yang ingin aku perlihatkan kepada mereka. Selalu ceria, selalu menebarkan aura kegembiraan dimanapun aku berada. Mereka tidak akan pernah memahami keadaan hati juga perasaan yang sesungguhnya, karena mereka hanya melihat karakter ceria pergaulanku saja.

Aku memang tidak pandai tersenyum karena tekstur wajah yang terlihat selalu tegang (baca: menakutkan), aku mengekspresikannya dengan kata-kata yang mengundang gelak tawa, kekonyolan-kekonyolan, bahkan bernyanyi diantara mereka. Itulah kenapa mereka memanggilku Pak Pani (Funny:gembira). Aku hanya tersenyum mendengar dan menerima gelar itu, mereka memang tidak mengerti kehidupanku.

Aku hanyalah lelaki 47 tahun, seorang duda (belum resmi secara peraturan negara), tinggal bersama ibuku yang sudah mulai pikun. Tanpa pekerjaan tetap, hanya tenaga serabutan yang tidak memilih-milih bidang pekerjaan. Kuli bangunan bisa, jasa pengantaran barang oke, mengecat background tembok atau wallpainting (melukis tembok) aku jalani.


Menjadighoshwritter, yaitu membantu menulis naskah atau artikel untuk orang lain, aku bisa. Termasuk membantu menuliskan artikel untuk orangpenting, dari para caleg yang ingin mendulang dukungan lewat tulisan juga kujalani. Menerima upah recehan aku terima dengan rasa syukur. I can do alles.

Tetapi sebulan ini aku sama sekali tidak berpenghasilan, tidak ada satupun tawaran pekerjaan yang menghampiriku. Untung masih ada sedikit tabungan yang bisa kami pakai untuk menyambung hidup, walaupun itu hanya sekedar untuk bisa makan nasi kosong, dengan lauk sambal mentah saja. Itu, sudah bisa membuat kami lantang melantunkan lafadz Alhamdulillah.

Tetapi seperti yang kuceritakan diatas, semua ini kujalani dengan penuh rasa syukur dan keceriaan. Hanya aku dan Tuhan yang tahu, seperti apa sesungguhnya kehidupan dan keseharianku. Akupun berharap kalian tidak terbawa suasana, tetaplah menganggapku sebagai Pak Pani (Funny) dalam tolak ukur imajinasi kalian selalu. Orang yang selalu dianugerahi senyum dan rasa syukur.


(Tamat)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear PJ

Seberapa Penting Festival Desa (Feature)