Happy Anniversary, Cinta!
Cempluk membuka pintu kamarnya dengan tergesa, lalu menutupnya dengan keras setelah dia di dalamnya. Membanting tubuhnya di atas kasur, dan menangis terisak dengan wajah terbenam di bantal. Sontak pintu-pintu kamar di sekitar kamar itu terbuka hampir bersamaan, neberapa kepala tersembul dari dalamnya, saling berpandangan satu dengan lainnya.
"Ada apa?." tanya Cipluk penghuni kamar 17, dia bertanya kepada Ciput penghuni kamar nomor 19, yang bersebelahan dengan kamar 21, kamarnya Cempluk. Ciput keluar dari kamarnya, perlahan mendekati kamar Cempluk. Kemudian, dengan hati-hati mengetuk pintu kamar itu.
"Pluk! Cempluk! Kamu kenapa?" tanya Ciput agak terbata, karena dari balik pintu dia mendengar isakan. "Pluk, buka pintunya sebentar dong. Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya Put, aku baik-baik saja.Tinggalkan aku sendiri. Aku hanya ingin sendiri saja." terdengar jawaban Cempluk dari dalam kamar, suaranya tetdengar serak dan berat.
Ciput pun tanpa sadar mengangguk, sambil meninggalkan pesan pada Cempluk sebelum.pergi ke kamarnya lagi, "Kalau butuh apapun, kamu ketuk saja kamarku, ya?"
Meskipun tak terdengar jawaban dari selanjutnya, teman-teman sekosan mereka sudah sedikit merasa lega.
Cempluk, Ciput, Cipluk dan beberapa orang lainnya, adalah penghuni kamar-kamar kosan itu. Kontrakan khusus putri yang dititip kelolakan oleh pemiliknya, kepada seorang lelaki yang mereka panggil Pak Siman.
Pengelola dan juga pengawas kos-kosan, sebuah bangunan rumah yang berpagar besi setinggi dua meteran itu. Sedangkan pemilik tempat itu ada di Jakarta, seorang wanita yang konon adalah simpanan salah seorang pejabat negara.
Cempluk masih terisak, tetapi kali ini dia sudah telentang memandang langit-langir kamarnya. Terdengar nada notifikasi whatsapp dari gawainya, dia membacanya, kemudian membalasnya.
Sejurus kemudian matanya melihar ke arah testpact, yang tergeletak di meja riasnya. Alat itu mengidentifikasikan, bahwa dirinya hamil. Itu yang membuatnya menangis tadi. Terbayang betapa akan murka kedua orang tuanya, jika mereka mengetahui anak semata wayangnya hamil di luar nikah.
Cempluk memang merasa sudah hamil. Lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian ini adalah Dilan Brahmana, seorang bangsat yang tiba-tiba entah kemana. Menghilang tanpa jejak, tanpa pesan, seperti lenyap ditelan bumi, bahkan sebelum Cempluk sempat mengabarkan tentang kehamilannya ini.
Lelaki itu tidak dapat dihubunginya lagi, nomor gawainya tidak aktif, WA, Facebook, Line, G+, dan beberapa akun media sosialnya, semua tidak aktif.k Sempat terbersit dugaan dari wanita berambut panjang itu, mungkin dia sudah melarikan diri darinya? Berencana membebankan aib ini, pada dirinya seorang?.
Cempluk tidak lagi bisa menemukan bukti dari janji manis lelaki itu, saat merayunya untuk menyerahkan kesuciaanya di kamar hotel, malam itu? Dimanakah sumpah yang selalu dia ucapkan, untuk akan bertanggung jawab atas resiko yang akan ditanggungnya? Bersedia menikahi. Kata yang selalu diucapkan, setiap kali dia mengajak mengulangi mereguk nikmatnya surga duniawi.
Hotel Tretes Raya, Hotel Surya, Hotel La-Syuga dan beberapa tempat lainnya menjadi saksi, ketika dia selalu bersumpah untuk menikahinya, membahagiakannya.
Di kamar kontrakan ini, bahkan di kamar kontrakan lekasihnya itu, atau di Kebun Teh Gunung Penanggungan, di rumah pohon Taman Dayu, di tempat-tempat itu selalu dia membisikkan kata rayuan mautnya. Sebelum cumbu rayu, menembus samudrasmara.
Lalu sekarang, dimanakah lelaki yang selalu memberinya janji-janji indah itu berada? Tidakkah hatinya bersuka ria, karena tahu Cempluk sedang mengandung calon keturunannya?
Fikirannya sangat kalut, antara perasaan takut pada orang tuanya, perasaan malu pada teman sejawatnya, rasa kecewa dan sesal yang menyesak di dada. Dia mulai berfikir untuk mengakhiri saja hidupnya, dia akan bunuh diri.
Disambarnya sebuah gunting, lalu dia berancang-ancang mengarahkan itu ke ulu hati. Tetapi diurungkannya. Dipandanginya ujunh gunting di genggamannya itu, benda kecil pemotong kertas itu bahkan takkan bisa melukai kulitnya. Mungkin hanya menyebabkan lecet saja, tetapi Cempluk benci dengan luka, benci rasa sakit dan perihnya.
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu, mungkin dengan meminum racun serangga tidak akan menyakitkan. Kemudian dia mulai mencari dengan seksama botol penyemprot nyamuk itu, di sepanjang lekuk dan sudut kamar itu.
Dia baru ingat setelah tidak meneemukan apa yang dicarinya, karena boro-boro racun serangga, lotion pengusir nyamuk saja dia tidak punya.
Cempluk bergikir untuk membelinya dulu, di warung ujung jalan sana. Merepotkan.
Atau minum cairan deodoran saja? Tetapi apa bisa mati? Kalau cuma dapet pahitnya saja bagimana? Gadis itu mulai kehilangan ide untuk bunuh diri.
Di tengah kebingungannya, dia dikejutkan oleh suara dering gawainya yang sangat nyaring. Membuyarkan segala rencananya briliant-nya, untuk segera mengakhiri hidup dengan indah.
Diambilnya gawai yang terus-menerus berdering itu, dilihatnya foto si pemanggil ... Cemplon, teman sejawatnya di kantor.
"Hallo!" terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Hallo!, Ada apa menelponku malam-malam begini, Plon?" tanya Cempluk malas.
"Eh! Sableng Lu, ya! Main ambil tespack orang sembarangan!'
"Maksudnya apa, Plon?" tanya Cempluk, diantara kebingungan dan ketidak fahamannya.
"Tespack yang Lo bawa pulang itu punya gue! Nih punya Lo, tertinggal di meja kantor. Dasar sableng!" kata yang di seberang dengan nada berang. "Gue sampai bertengkar sama suami, gegara tiba-tiba saja gue kaga jadi hamil. Padahal pagi tadi indikasi-nya hamil!"
"Jadi yang hamil Elo, Plon? Bukan gue?" tanya Cempluk mulai menampakkan wajah kegirangannya.
"Eh, Pluk. Elo hamil sama siapa?!" terdengar suara dari seberang sana, tentu tidak dihiraukannya.
"Hai, sableng! Kembaliin tespack gue! Sekarang juga!"
Cempluk menari-nari dalam kamar, hilang sudah rasa was-was di hatinya. Ternyata, dia salah membawa pulang tespack orang yang sedang hamil. Temannya yang hamil, bukan dia.
Tetapi, kenapa si brengsek Dilan itu tidak bisa dihubunginya juga? Apakah lelaki yang dicintainya itu sudah melupakan dirinya. Atau mungkin, saat ini dia sedang mencumbu seorang perempuan lain di satu kamar hotel?
Wanita cantik keturunan Tionghoa itu hampir menjerit sedih, ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Buru-buru dia membenahi penampilannya yang acak-adul itu. Setelah pintu terbuka, terlihat wajah orang yang sangat dihawatirkannya tersenyum padanya.
"Selamat malam, Dear!" Selalunya kata itu yang meruntuhkan ketangguhan imannya, membuatnya kehilangan akal dan kehilangan momen untuk mencaci-maki kekasihnya itu. Padahal seharian tidak bisa dihubungi, lalu tiba-tiba muncul di hadapannya dengan seulas senyuman.
"Kamu habis menangis, ya? Kenapa?" tanya Dilan, "kamu lupa ya, hari ini saatnya merayakan anniversary pertama kita?" kata lelaki itu lembut, tetapi entah kenapa tangis perempuan itu tiba-tiba saja meledak.
"Kenapa seharian tidak bisa dihubungi? Kamu seneng bikin aku kawatir, aku nangis karena aku bingung tau!" kata Cempluk dengan marah yang tersembunyi di balik sikapnya yang manja.
"Gawaiku ada padamu, Sayang. Waktu aku ke sini kemarin, bukannya dia tertinggal disini? Apa kamu lupa?" berondong Dilan dengan pertanyaan-pertanyaan terkejutnya, "atau malah ... Jangan-jangan tidak kamu charge? Waduh! Lowbatt dong, Sayang?"
Tidak kalah kaget dari kekasihnya, Cempluk pun teringat dengan apa yang ditanyakan kekasihnya itu. Hape Filan ada di kamarnya.
"Ya ampun, aku baru mengingarnya! Benar, aku lupa tidak mengisi daya hape itu," sekarang gadis itu yang celingukan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Mana seharian tadi aku coba menghubungimu melalui gawai itu, yang akhirnya membuatku marah karena gawai itu tidak aktif." Cempluk menutup wajah ayunya dengan kedua telapak tangan. "Maafkan aku, Sayang. Aku telah berprasangka buruk, padamu."
Dilan segera merengkuh tubuh wanita pujaannya itu, ke dalam pelukan dan dekapan mesranya. Membelai rambut panjang kekasihnya dengan lembut, seraya membisikkan sebuah kalimat di telinganya.
"Happy Love Anniversary, Sayang," suara lelaki itu terdengar merdu sekali di telinganya, membuat tangisnya pun pecah berderai. Tangis kebahagiaan, tangis kebanggaan, tangis kesuka citaan. Dalam hatinya pun, tulus mengucapkan satu kata "Happy Anniversary Cinta."
(Tamat)
Komentar
Posting Komentar