Antara Cinta, Cemburu dan Kesetiaan

Suatu sore yang cerah, Tari dan Sudharmono duduk di teras rumah duda 50 tahunan itu, menatap pohon rindang dan berpuluh macam bunga di halaman belakang. 

'Pak Dar, kita sudah bersama begitu lama, ya?" ucap gadis cantik berambut sepinggang itu, senyumnya memancarkan kehangatan.

Sudharmono tersenyum mengangguk, "Benar, Sudah puluhan tahun kita menjadi tetangga, bahkan bersama mengalami segala suka dan duka kehidupan ini."

"Tapi ada sesuatu yang selalu mengganjal di hatiku, ini" ucap Tari dengan wajah serius, Sudharmono menatapnya penuh perhatian.

"Jangan ragu untuk berbicara, Tari. Kita ini sudah seperti keluarga sendiri," jawab Sudharmono lembut.

Gadis cantik berkulit putih itu menghela nafas, "Sudah sepuluh tahun sejak perasaanku padamu tumbuh, Pak Dar. Tapi aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Bersamamu aku merasa lebih dari sekadar anak tetangga. Dekapanmu, pelukanmu, elusanmu di pipiku, dan belaian mesramu di rambutku, aku merasakan bukan lagi sebagai seorang tetangga dan anak gadis tetangganya."

"Bukankah itu sudah terjadi sejak usiamu 10 tahun dulu, bahkan sejak istriku masih hidup?"

"Pak Dar tidak sekalipun menganggapku istimewa, selama ini?"

Sudharmono terdiam sejenak, kemudian tersenyum, "Tari, kamu selalu istimewa bagiku. Tetapi, kamu masih muda, dan aku selalu menganggapmu sebagai anak perempuan yang cantik dan menggemaskan."

Meskipun terasa pilu, mahasiswi sebuah universitas itu tetap setia. Setelah kematian istri Sudharmono, kehadiran Tari di rumah duda itu semakin aktif. Ia merawat rumah duda tersebut dengan penuh kesetiaan, bahkan menyiapkan masakan atau merawat taman jika tidak sibuk kuliah.

Hari demi hari, Tari tidak bisa lagi memendam perasaannya pada duda itu. Hatinya belum merasa puas, jika belum mendapatkan kepastian tentang hubungan mereka selama ini.  Higga suatu hari ketika mereka berdua terlihat bersama lagi di meja kecil taman belakang rumah, Tari pun segeraelakukan intensitas penyerangan.

"Pak Dar, aku ingin kita bicara lebih serius, kali ini," kata Tari, wajahnya terlihat begitu serius.

Sudharmono mendengarkan dengan penuh perhatian, saat Tari menceritakan keceriaan dunia remaja dan harapannya untuk tetap bersama. Namun, dalam benak Sudharmono, ia hanya melihat hubungan ayah-anak. Di hati duda setengah abad itu, Tari tetaplah bukan siapa-siapa di hatinya, yang kelak akan mencampuri segala macam urusan kehidupannya. Namun, perasaan Tari terus berkembang, seakanemaksa duda tua itu memberikannya status yang lebih utama di hatinya.

Suatu hari, teman Sudharmono, Deasy, datang bersilaturahmi. Mereka pernah menjadi teman sekolah ketika remaja, hingga pertemuan sesaat itu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menumpahkan rasa rindu yang menumpuk bertahun-tahun lamanya. Kedatangan wanita berambut pirang mengubah sikap Tari dengan brutal, memunculkan kemarahan dan rasa cemburu yang tak terduga.

Ternyata Sudharmono sedang mencari celah, dari hubungan masalalunya dengan Deasy. Terbukti beberapa hari kemudian, mereka menikah walau tanpa diiringi dengan pesta besar. Namun, kebahagiaan mereka singkat, ketika Deasy ditemukan meninggal dengan keadaan mengerikan di taman belakang rumah mereka.

Polisi kesulitan menyelesaikan kasus pembunuhan ini, walaupun sudah memeriksa banyak saksi. Tidak seorang pun yang diinterogasi, termasuk Tari, yang selanjutnya dijadikan tersangka. Hingga setahun kemudian Sudharmono menyusul istrinya ke alam baka, karena depresi dan penyakit langka yang menggerogoti raganya.

Hingga suatu hari, salah seorang keluarga Sudharmono menyerahkan secarik kertas yang berisi indikasi ancaman pembunuhan terhadap Deasy.
Dengan beberapa pengembangan penyelidikan baru, diperkuat dengan barang bukti yang ditemukan, tersangka pembuat surat ancaman itupun ditemukan. Mereka menangkap Usman, alumni SMA Sudharmono dan Deasy, yang sesungguhnya salah seorang pelaku cinta segitiga dengan Deasy dan istri sahnya.

"Cemburu membawa kehancuran," ucap Usman pada saat interogasi. Deasy meninggalkannya demi Sudharmono, dan cemburunya membawanya pada tindakan tragis. Lelaki pecatan angkatan bersenjata itu memukul kepala keksih gelapnya dengan sangat brutal, hingga tewas meregang nyawa. Tidak adanya saksi mata saat kejadian dan juga karena Usman tinggal di kota lain, karena itulah polisi kesulitan mengarahkan kecurigaan padanya ketika itu.

Sepuluh tahun berlalu, Tari tetap setia mengunjungi makam Sudharmono. "Pak Dar, aku dan Sudharmanto akan selalu mendoakanmu bahagia di sana," ucapnya sambil memegang tangan anak laki-laki berusia sepuluh tahunan yang selalu menemaninya itu.

Kisah ini mengajarkan tentang cinta, kesetiaan, dan bagaimana cemburu dapat mengubah hidup seseorang. Meski berliku, perjalanan hidup Tari tetap berlanjut dengan penuh kasih sayang dan kenangan yang tak terlupakan, bersama anak sematawayangnya Bambang Sudharmanto.

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear PJ

Seberapa Penting Festival Desa (Feature)

They Are Call Mr.Funny